Atas Nama Cinta, dan restu semesta


Dua puluh empat jam yang lalu, masih berkutat dengan chating , argumentasi, dan segala hipotesa-hipotesa palsu perihal isu yang terjadi di sekelilingku. Bercengkrama dengan senior di dalam sebuah surau lain yang tidak biasanya ku lakukan, bernegosiasi renyah dengan khalayak ramai dengan keahliannya masing-masing dan juga bertemu dengan orang-orang baru yang kebetulan berbicara perihal setia.
Ah, aku sudah biasa dengan keadaan semacam itu, seperti tipu muslihat yang memang nyata, aku terhipnotis oleh rayuan semesta melalui coba-coba dalam nuansa kehidupan kita sebagai abdi dan hamba. Ada yang sok perhatian padahal lancang, ada yang sok tak peduli padahal butuh dicari, ada yang sok bisa padahal biasa saja, ada yang tidak sok tapi tidak juga bisa. Tak usah menyoal kasus besar yang terjadi di negeri kita, lalu, apa yang ada di sekililing kita bukan dinamakan palsu juga? Aku masih bertanya, apakah semesta memang suka bercanda?
Kalaupun tidak ada prasangka, nasehat dan pembicaraan nyata, lalu apa fungsi ego dan otak kita yang sudah candu setiap hari digesek oleh cairan hitam dicawan itu? Rasanya mustahil bukan, jika kita bisa membuat diri kita merdeka. Bualan-bualanku tentang diksi yang ku eja sempurna diatas ketikan layar kacaku pun mulai tidak masuk akal semenjak aku tahu bahwa bercanda adalah bagian kerja dari semesta.
Sebab, kita terkadang lupa bahkan pura-pura tidak tahu. Sebab, akibat, aksi, reaksi, serta dampak yang lainnya jika kita berjuang perihal cinta. Banyak sakit yang didera mungkin, atau malah mati rasa yang menjelma jadi bahagia. Rasanya empat alenia ini kosong dan hanya bualan semata juga bukan? Sekali lagi aku tak berpuisi, mencaci bahkan menjadi nabi. Aku hanya mengungkap fakta yang terjadi sebab lalainya hati dan berserah diri.
Lima ratus jam lebih aku berkutat dengan emosi dan luapan nafsu yang tidak bernalar. Kali ini, atas nama kami, aku berserah atas apa yang sudah dirancang semesta perihal bahagia yang sebenarnya didepan mata. Sayangnya kamu bahkan aku ataupun kami, masih menutup diri dengan kacamata yang tanpa layar. Mabuk atas dasar keadilan serta diperbudak sistem atas dasar persaudaraan tanpa mempertimbangkan perbedaan dan kasih sayang. Apakah itu tidak mubadzir? apakah itu tidak sia-sia?
Sampai naskah ini dibuat, aku atas nama kami telah berserah dan memohon ampun atas apa yang sudah kamu dan kami perbuat dengan harapan dan keyakinan serta argumen pasti dari kami bahwa tidak ada bahagia yang tercipta atas adudomba dan masalah yang ada. Hanya kita harus lebih paham apa peran semesta dalam mengatur karya. Yakni bersujud dan berdoa!
Salam santri nusantara.


Kediri, 06 november 2018

Bermodal setia, kami bisa bahagia !


Tiga bulan berlalu, entah apa yang ada dibenakku, sampai saat ini tetap berusaha jadi yang terbaik dimatamu, dipelukmu, sampai disetiap sepertiga malammu. Aku hanya tak ingin ada ketidak ikhlasan karma yang menghampiri kehidupanku entah kehidupanmu, yang jelas aku tetap berusaha menjadi yang terbaik sebagai pekerja setiamu.
Waktu berlalu, musim bersemi, kedatangan tamu terus silih berganti, senja tak pernah meninggalkan langit, sedih tidak pernah hilang dari hati yang mencoba bangkit. Matahari tetap bersinar sesuai porosnya, perseteruan antara bumi manusia masih merajalela. Dan aku bertahan mengelus kakimu demi kehormatan yang akan kau hibahkan kepadaku. Hanya kau hibahkan, tuan!
Orasi demi orasi tetap kutulis, menggunakan referensi buku kehidupan agar tidak ada seorangpun yang berani mencela perihalmu dan apa yang kau lakukan kepadaku. Kehidupan terus mengalir, ibarat air aku tidak akan membiarkannya kumuh, demi kamu dan kehormatanmu. Tetap, topik yang ku angkat hanya perihal kehormatan tuan. Kau tahu kan? Berapa anak manusia mati hanya sebab kebodohan yang dilakukan sendiri? Berapa banyak bencana dan ujian selama aku meninggalkan naskahku demi menghujatmu melalui rima dan naskah basi seputar aib terbaikmu dikehidupan ini?
Aku hanya mengingatkan, bukan mencela seperti dugaanmu. Kau juga tahu kan? Kapasitas keilmuanku menyoal kasih sayang lebih dari kamu menyayangi anak istrimu itu? Murni demi tuhan kami setia menjagamu dari orang-orang baik yang tidak kau berlakukan baik. Mungkin saat ini kau sedang membaca naskah ini dengan suasana hati geram, ini sudah maghrib tuan, apa tidak lebih baik kau berserah perihal apa yang dilakukan semesta terhadapmu? Sudahlah jangan memperkeruh suasana lagi!
Sudah berapa orang yang hanya pura-pura bersamamu dan meninggalkanmu secara perlahan dan diam? Itu lebih sakit daripada hujan tanpa mendung yang tiba datang sebentar  kemudian terganti dengan pelangi? Lain halnya kehidupanmu, tidak mungkin terjadi seperti itu.
Sementara kami, nomenklatur yang sebentar lagi hanya menjadi batu nisan, mengering, hambar, kesakitan dan didera, serta setia kepadamu? Lihat sejenak saja tuan. Pergunakan kacamata kehidupanmu sejenak. Lepas semua atribut palsu yang menjadikan indahmu hanya semu. Lepas semua jabatan yang mengelilingimu seakan kau berpesta dalam kemunafikan. Tolong, demi kami, lepas saja sejenak agar kau tahu bahwa aku dan kami masih tetap sama, memelukmu erat dengan tusukan pisau dibelakang tubuh kami. Kami menjagamu utuh seperti tuhan yang menjagamu utuh. Sampai kau tersadar bahwa hanya setia bersamamu kami bisa bahagia, tuan!
Apalagi yang kamu masalahkan? Apalagi yang kau khawatirkan sampai kau tidak tahu banyak keributan yang terjadi, banyak kebahagiaan yang kau lupakan sebab kamu sudah tertutupi oleh semua yang menempel dikehidupanmu dan melupakan kami yang selalu mendukung apa yang kau perintahkan. Sakit itu sudah menjadi obat, kecewa itu sudah menjadi taubat, dan tangis itu sudah lama tertambat.
Usahlah kau menyoal naskah, undang-undang sampai foto yang kau hambur-hamburkan demi pemenangan pemilihan lainnya. Cukuplah kau percaya pada kami, bahwa dengan setia, kau mampu mengantarkan kami menuju bahagia. Hanya itu tuan, hanya itu! Kami tidak meminta lebih perihal janji yang berulang kali kau dustai dihadapanku dan dihadapan kami setiap detik waktu ini berjalan. Sampai kau tersadar bahwa modal kehidupan kami adalah setia bersamamu, menjadikan kami berbahagia diantarkan oleh tuhanmu, tuan. Diseduh dulu kopi pahitnya!


Kediri, 24 oktober 2018

Menjadi pengurus kehidupan

Orang-orang pada umumnya tidak pernah paham apa yang sebenarnya dilakukan semesta untuk menghibur dirinya, terkadang menyulap cinta menjadi benci, menjadikan hal yang nista menjadi manis sekalipun. Dan itu juga yang kami alami sekarang, kami bahkan tidak paham apa yang semesta perbuat sehingga membuat kami sedewasa ini bukan? Apakah kau paham tuan?
Banyak yang menyangka bersandar disebelahmu adalah hal yang paling indah, menjadi abdi dikehidupanmu adalah hal yang paling bermakna. Satu yang kutahu, orang-orang yang berbicara lantang seperti itu mungkin hanya bercanda dan bahkan bertanya-tanya. Nyatanya, kami mendapatkan perlakuan lebih istimewa dari itu. Menjadi martirmu dan memperjuangkan hak kami yang sudah kamu injak-injak adalah makanan kami sehari-hari, bertingkah menjadi pesuruhmu yang santun ketika yang lain sedang merenung dan lalai akan tanggung jawabnya, itu juga jadi santapan malam hari kami.
Apakah sempat terfikir dibenakmu bahwa kami mengeluh? Sama sekali tidak tuan. Kami yakin ini adalah tanggung jawab pengurus yang sedang kami sandang. Ini adalah amanah mulia dari yang mulia untuk sebuah kemuliaan yang ditunggu-tunggu datangnya. Apakah kau pernah menyadari secinta ini kami kepadamu? Sesayang ini kami kepadamu? Seperhatian ini kami kepadamu? Tanpa harus kau ludahkan isu-isu tentang ketuhanan dan kecintaan tuhan dengan kami melalui ayat-ayatmu. Kami sudah cukup paham akan itu tuan!
Sebab, perihal cinta kami sudah mendapatkan kasih dan sayang dari orang tua kami, kemudian sengaja orang tua kami menitipkan cinta kepadamu dengan cara membawa kami menghadapmu dan menjadi abdimu, walau pada akhirnya dicampakkanmu adalah bagian terpenting hidup kami. Kami tahu bahwa tugas semesta adalah membuat hal yang tidak mungkin menjadi kemungkinan yang mungkin dipaksakan seperti tabiatmu yang mungkin juga tidak pernah disadari kebenarannya. Cinta juga yang membuat rasa kenyang menjadi lapar kembali. Sebab ialah yang menumbuhkan cerita perihal sakit. Cinta pula yang menjadikan seniman menjadi giat berlatih, sebab cinta juga yang menumbuhkan rasa tertatih.
Tapi kau tahu kan tuan? Kami melakukan itu semua demi cinta kami kepadamu, ini sebenarnya hal yang mustahil dilakukan orang-orang pada umumnya. Kami sadar bahwa kau melatih kami memulai hal tidak mungkin menjadi hal yang selalu dimungkinkan, menjadi budakmu sampai kehidupan berakhir, misalnya. Ah sepertinya bukan tugas kami untuk membuat kritik perihal kehidupanmu, kami hanya pengurus yang diberi amanah untuk bekerja, diberi amanah untuk mencinta, dan diberi amanah untuk mengasihi sesama, hanya saja kami beruntung tidak disumpah untuk mendera manusia-manusia yang tidak bersalah seperti apa yang sudah kau lakukan kepada kami, tapi kami yakin apa yang kau lakukan semata-mata demi cinta, hanya demi cinta. Kami paham betul itu.
Terima kasih tuan, telah mengajari kami menjadi pengurus kehidupan, setidaknya sepulang kami dari pengabdian kepadamu, kami paham perihal menyayangi seseorang juga perlu untuk memberi dia pelajaran tentang rasanya disakiti tapi tidak meninggalkan perih, disayat perlahan agar tidak menimbulkan luka bakar yang mendalam, sehingga pada fase kehidupan selanjutnya, kami sudah siap sakit dan jatuh untuk menjadi pengurus kehidupan. Terima kasih dan terima kasih. Darimu kami belajar sakit dan kecewa, jatuh dan terluka, hanya untuk bangkit kembali demi mendapatkan kesucian dan kemenangan yang abadi.
Diseduh dulu tuan kopinya,? Dari kami para peracik kopi kehidupan. Sampai jumpa di masa depan.



Kediri, 06 juni 2018

Terselip rindu disujud taraweh kita

Entah, harus seperti apa lagi aku bisa menjauh darimu, kurasa itu hal yang mustahil. Sebab, tidak ada insan yang melalui banyak cerita disetiap langkah seperti kita. Mulai dari baku hantam, saling rindu, diskusi rasa sampai menuai air mata bahagia disetiap perjumpaan. Dan banyak hal lain juga yang membawa kita tetap bisa seperti ini. Ya, paling tidak aku dan kamu masih sanggup untuk bertemu tanpa sekat dan menjalin komunikasi tanpa ada kata benci sedikitpun.
Terima kasih untuk kebahagiaan di 24 bulan yang lalu, terima kasih canda tawamu puluhan ribu detik dikehidupanku dua tahun yang lalu. Aku masih ingat sewaktu kita bersama menyoal semua cita dan cinta didalam atap gubug barokah yang kita tempati. Membahas perihal kitab apa yang akan dikaji dibulan ramadhan, menyoal apa yang akan kita lakukan setelah buka puasa, dan bahkan sahur jam berapa kita nanti? Karena kurasa tidak pernah terlelap kita menjaga orang-orang yang menyayangi bahkan membenci kita sekalipun.
Kau masih ingat kan? saat aku membuatkanmu kopi untuk menemani malam yang suntuk waktu itu, saat semua anak didikmu sudah mulai berkemas untuk mencium rindu dengan hasrat penuh kepada orang tuanya dirumah? Kita yang mengantarkan mereka bukan untuk bersalaman kepada kyai? Kita juga kan yang sudah bersiap sedari fajar menyapa kita dihari itu, Sedari mentari tersenyum hangat bertemu kita? Aku rasa tidak ada yang perlu ditakutkan lagi perihal kita yang sedalam ini memahami rasa. Sepertinya memang biasa dan dianggap lumrah. Tapi orang-orang yang membenci kita tidak pernah paham bagaimana harmoni kehidupan kita waktu itu.
Orang-orang bahkan tidak tahu bagaimana kita tetap menghargainya walau kita sudah dihujat sedemikan rupa. Ah, kurasa aku tidak mau membawa kebencian dihadapan pelukan rasa yang kita jalani sekarang. Sampai aku mengingat betul kita yang siap untuk menemani mereka tanpa tidur di dua hari terakhir ramadhan waktu itu. Kita yang membantu mereka mengemas barang-barang, kita yang membuka pintu rindu mereka kepada orang tua mereka terbuka lebar, kita yang memberi jalan. Kau jelas masih ingat, saat tangan kita mencium sosok bapak dan ayah kita, dua sosok yang bersedia mendoakan kita sejak sepertiga malam, juga sosok yang rela terbangun lebih awal demi barokah mengalir kepada kita. Kau masih ingat kan?
Terlalu naif jika aku harus membenci orang-orang yang membenci kita, jika logikanya saja kita lebih bahagia? Apa ada hal tidak wajar yang dialami orang lain seperti yang kita alami? Sepertinya tidak. Karena aku yakin rasa yang sudah kita tanam tidak sekedar rasa perihal bertemu, bertegur sapa dan meneguk kopi bersama, lebih dari itu kita mampu menciptakan sejarah baru dikehidupan yang sudah sangat rusak ini bukan? Ah aku tidak bisa beranjak seketika saat aku taraweh dimasjid yang berbeda sajadah denganmu, aku masih merindumu disetiap benang yang tersentuh tanganku ketika sujud.
Aku masih tetap membayangkan, ada rindu terselip diantara sujud taraweh kita, aku tidak berharap kamu merasakannya juga. sebab, kelak dipenghujung malam entah sepuluh tahun yang akan datang kau akan merasakan hal tulus yang tidak kau dapatkan dari seorang teman sepertiku, karena aku sudah menancapkan dalam doaku untuk kerinduanku kepadamu agar kau selalu ingat bahwa ada hal yang dulu pernah kita raih bersama selain membenci orang-orang yang membenci kita, yakni kita sudah bertekad untuk membuat sejarah baru dan itu sudah terjadi. Maka, tidak ada alasan kau untuk melupakanku disetiap sujud tarawehmu.
Terima kasih, mengajariku membenci seseorang melalui rindu, telah mengajariku melawan seorang yang kita benci melalui tabiat yang baik dan tidak grusah grusuh. Darimu aku belajar banyak perihal sebenci apapun kita terhadap sesuatu, ada hal lain yang harus kau bahagiakan sebab mereka yang tidak membencimu bahkan sudah membahagiakanmu tanpa harus kau suruh, lalu apalagi yang kau persoalkan perihal benci yang menggebu-gebu, ikhlaskan. Suatu saat kita akan bertemu dalam palung rindu dengan orang-orang yang membahagiakan kita dalam kondisi bahagia. Amiin.
Salam santri nusantara



Kediri, 5 juni 2018

Ada cerita di Hi-tech kita

Ada yang mengukir di kertas, ada yang menulis dengan rapi di setiap mushaf, ada yang menghias didalam ruang kelas, ada juga yang tertulis didalam surat-surat lawas, pun ada juga yang hanya melihatnya di ruang gelap, ada juga yang hanya meminta barang tersebut dari bekas, bahkan yang tak sanggup mendapatkannya juga banyak. Satu hal yang perlu dicatat, dia adalah nomenklatur kenangan kita selama kita bersama.
Ada yang sudah pandai memainkannya, sudah seperti kenal akrab dengannya, sampai dibuat menulis apapun perihal kebencian dan kenangan dia tetap terlihat indah. Ada juga yang sulit sekali berkenalan dengan dia, meskipun kedatangannya adalah semangat bagi kami yang kurang mampu membelinya, namun dia sangat rumit untuk beradaptasi dengan kami. Ada juga yang hanya ingin dianggap orang punya sampai merogoh goceknya demi sebuah tinta suci yang bisa dibawa kemana-mana. Ada pula yang hanya sanggup meminjam dari kerabatnya atau bahkan hanya melihat dari teman sebangkunya.
Perihal nama dan kesohoranmu sudah seperti mutiara yang muncul ditengah-tengah gersangnya pola pikir kami, sehingga kemunculanmu bisa jadi hal positif untuk kami. Sebab tak ada alasan lain untuk hal penting sepertimu selain membawamu dan kenangan kami.
Kamu tak pernah berbohong kepada kami, kamu bahkan mampu membuat hati kami takjub dan darimu kami belajar perihal merawat dan menjaga barang yang sempurna itu butuh ketelatenan yang luar biasa. Darimu pula kami belajar bahwa menerima apa adanya itu tidak hanya dengan diam saja, kamu bisa merubah hal yang wajar menjadi istimewa, merubah suatu yang biasa menjadi luar biasa. Ini bukan sebab aku memujamu terlalu dalam, melainkan tulusku kepadamu murni, bukan karena kau terangkat dan menjadi kyai.
Ada hal lain yang bahkan bersamamu kami baru merasakannya, kami mampu mengukir persahabatan melalui goresan tintamu, kami mampu melalui setiap taftis juga dengan goresan tinta sucimu, hanya denganmu kami mendapat kejelasan hidup melalui goresan tinta, sebab adanya kamu kami jadi tahu menulispun butuh hati-hati dan seni serta imaji. Lalu, apakah ada sosok lain yang menggantikanmu perihal menulis kenangan kami?
Terima kasih untuk tetap membawa kami dalam nuansa kenangan nan harmoni, saling berteguk air minum ditandon yang rusuh namun penuh rasa suci. Saling senyum sebab kamu sudah mau dipinjam kesana kemari, masih sanggup berdiri sebab mengajarkan tanggung jawab yang hakiki. Entah, sejak membawamu kami sudah seperti armada perang yang siap dalam medan apapun, menjemput barokah dalam kondisi bagaimanapun, dan mengemban amanat sebagai penerus generasi santri yang santun.
Kau tahu kan? Celotehan sampah ini hanya mmapu kami ucapkan denganmu, kami lantangkan dihadapanmu! Sebab, kami tahu bahwa kamu tulus dalam mendengarkan kami, tintamu tidak pernah membohongi kami. Sebab, ada juga benda serupamu yang masih terlihat banyak tintanya ternyata seluruh isinya tersedot ditengah-tengah, dan kami tahu kamu tidak seperti itu. Biar mereka yang seperti itu yang hanya mampu menyedot semua pola pikir kami, merampas hak kebahagiaan kami, dan membawa kami dalam tanda kutip abdi yang jadi kuli agar melanjutkan kiprahnya. Agar kami bisa menuliskan kenangan dan sejarah perihal kejujuran yang mengalir darimu dan kami lampiaskan melalui tulisan yang kebohongannya masih mengalir dinadi mereka. Kami tidak mengharap mereka tersadar, sebab tidak ada kesadaran yang dipaksa sadar, sebab disanalah jeda kuasa tuhan mulai benar. Rahayu.
Salam santri nusantara


Kediri, 30 mei 2018

Suara kami masih sama, Tuan!

Ah, akhirnya aku bertemu lagi dengan pena dan kertas serta layar kaca tiga dimensi untuk menulis lagi imaji yang sudah kau curi, kreasi yang sudah kau maki-maki dan hal-hal penting yang sudah kau hianati.
Kurang lebih enam bulan terlewat setelah kepergianku, perihal jadwal yang sudah tersusun rapi menyoal pengajian dan pengabdian sudah ditata ulang kembali, pemilihan diksi dalam rancangan program kerja, serta susunan kalimat untuk mencanangkan program satu tahun selanjutnya, sepertinya sudah matang dan tidak diragukan dihadapan kalian semua. Sampai-sampai tidak ada celah untuk melanggar dalam aturan yang sudah dituliskan garis besarnya.
Aku cukup bisa tersenyum ranum semabuk anggur, masih menikmati suasana pengajian yang sudah diformat dalam bentuk mp3, pengajian mahaguru yang sampai sekarang masih teruji. Mengaji perihal alam, kehidupan, dan sampai masa depan yang tidak perlu ditakutkan sebab barokah yang tidak mungkin tersendak karenamu, Tuan! Namun kau masih tetap sama, memaksa kata demi kata, ayat demi ayat untuk memperlakukan mereka bak anak buah. Aku tidak pernah menyoal hal tersebut, yang aku takutkan hanya satu, suara kami masih sama walau terlihat berbeda dihadapanmu!
365 Hari yang lalu kau masih ingat, bayangan kekalahan ideologi sudah menusuk bagian terdalam pemikiran santri, sehingga kata belajar dan mengaji menjadi rasa takut dan ngeri untuk menghadapi. Sampai mereka memilih pergi sebab tak ada yang bisa diajak kompromi. sepele sebenarnya, aku hanya mengingat perjuangan mereka saat ditinggal orang tuanya tanpa uang saku yang mampu membeli sarung dengan brand BHS sepertimu, yang tidak bisa order ojek online setiap waktu sepertimu, dan juga tak bisa mondar mandir kesana kemari mengurus proposal sepertimu, kau masih ingat kan syahdunya mereka yang hanya mengaji utuh, perihal barokah dan masa depan yang harusnya menjadi tanggung jawabmu, namun kau menghilang tuan, bak suara petasan dibulan ramadhan. Keras namun sekali sumbu itu terbakar dan meledak maka hilang pula jiwa dan harga dirimu.
Ah, mereka pasti hanya memendam perasaan tersebut, yang mereka tahu hanya perihal mengaji dan tukar-menukar pena saat pengajian berlangsung serta disuruh berwudhu ketika ngantuk dan menggigit-gigit ujung pena saat sang guru terlalu lambai dalam menjelaskan pelajarannya, namun saat itu mereka sedang mengatur harmonisasi kehidupan untuk menjadi lebih baik dan mencontoh tabiat yang sepertinya dicontoh, tabiatmu juga, mungkin.
Lalu kau dibantu menyelesaikan pesakitan santrimu melalui tenaga pendidik yang sangat mumpuni daripada ideologi berfikirmu, serta dibantu pula para armada perang yang siap menjunjungmu tinggi-tinggi tuan. Namun kau lupa, bahwa yang dicari mereka bukan nama baik, popularitas atau harga diri. Mereka sudah menyerahkan seutuhnya kebahagiaan mereka kepadamu, lalu alasan apalagi kau masih menghilang dan melanjutkan egomu untuk meninggalkan mereka yang masih menggandengmu ketika kau tertimpa masalah?
Sebab suara kita masih sama tuan, kau meninggalkan kami, kau membohongi kami, mempecundangi kami bahkan, kami akan terus mengabdi dan menimba ilmu serta menghormati dan menuruti apa yang kau inginkan hanya sebab kami ingin ridho serta restu dan barokah darimu, karena sesungguhnya tanpa kau ajaripun orang tua kami sudah memberi kami pelajaran perihal sopan santun, dan juga pelajaran menghargai.
Hanya sebab kau yang disohorkan saat ini pula, kami berusaha mencontoh tabiatmu , kami berusaha mencontoh perbuatan baikmu, dan orang tua kami sudah pasrah kepadamu, tolong diingat tuan, suara kami masih sama! Kami menunggu kedaulatan kebijaksanaanmu bersama orang tua kami, jangan dikecewakan !
Salam barisan para pengabdi


Kediri 28 mei 2018

Tentang kualitas, Jangan Bersejak !!

Sudah dua purnama telewat, aku masih kalut dengan coretan pena dikertas kuning, dihempas sepertiga malam yang tidak pernah larut. Masih menyoal kesetiaan, ya betul, kami masih berharap kepada sang maha harap untuk tidak melunturkan semangat kami secuilpun.
48 jam kemarin masih dengan semangat yang sama. Satu persatu mereka datang dengan cerita uniknya masing-masing. Ada yang membahas rindu, ada yang menyoal tentang pribadi mandiri, sampai lampu mati membawa kita pada sinarnya gerhana. Dan, aku hampir tersadar ternyata tidak harus gemerlap lampu, namun hanya dengan sepercik cahaya lilin kita bisa bersama nan harmoni. Tidak pernah menafikan perihal hari kemarin. Aku hanya bertengger membahas kebangsaan bersama rekan sejawat dan kesimpulan pembahasan kami Cuma satu yakni kualitas.
Dia (kualitas) yang harusnya bertahan disela-sela orang yang sudah ditunjuk tuhan, namun kadang hilang hanya perkara nestapa yang setiap hari mengejar sampai dilupakan tentang adzan yang berkumandang dan harusnya sudah mendekat dengan sang maha segalanya. Maaf, sepertinya itu bukan kesalahan namun naluri yang sengaja bingung dan butuh pencerahan.
Lagi, hari masih menyoal kenangan. Sepekan lalu barusaja bertemu dengan manusia cantik ciptaan tuhan yang jumlahnya juga tidak banyak. Anggunnya, pintarnya, eloknya, gigihnya, uletnya, dan sampai setianya. Aku malu melihat hal itu, segelintir orang yang dikemudian hari naskahnya disahkan tuhan sebagai makhluk yang sukses hidup dan akhiratnya. Hanya segelintir, mereka yang tidak pernah bersejak untuk membuat orang-orang disekitarnya lebih baik.
Tetap dengan gaya feminimnya, mereka bisa mengatrol semua paradigma buta yang mengelabuhi orang baru disamping kanan kirinya. Terkadang sampai terbesit direlung hati paling dalam, mengapa mereka yang hanya sedikit bahkan tidak dekat dengan kata lebih dari, itu bisa merangkul kaum disekitarnya, sebenarnya apa daya tarik mereka?
Sampai diseteguk terakhir kopi pagiku, aku berjalan ke rumah tuhan untuk menjalankan fardhu jumat yang harus kulakukan, aku berfikir, barangkali mereka tidak pernah berandai dan bersejak, apa mereka realistis? Atau hanya menjalankan amanah saja? Tidak habis fikir sampai waktu mengulur kami menuju ketempat bermain.
Dulu, sangat dulu sekali. Seringkali orang-orang menyalahkan hanya karena ada pertanyaan perihal sejak. Ini juga yang membawaku kedalam atmosfer untuk lebih memahami mereka. Untuk kali ini pemahamanku tentang wanita dan karya indahnya tidak berbelit. Sampai aku sadar yang mereka lakukan tulus dan bahkan tanpa merencanakan pengandaian. Yang mereka lakukan semata-mata untuk membahagiakan yang ada dan yang didepan mata. Walaupun kadang, diantara mereka ada yang terasingkan sejujurnya.
Namun, hanya karena mereka tidak pernah berkata “sejak ada kami semua jadi lebih baik, sejak ada kami banyak yang dianggap salah, atau bahkan sejak ada kalian semuanya menjadi tidak berbudaya”. Mungkin itu yang membuat mereka selalu juara perihal indah dan setia, ah dasar bodoh. Ternyata aku alpha di pelajaran ini.
Sampai pada akhirnya semua manusia berkesimpulan. Ribuan pasukan pintar dibawah satu komando bodoh mungkin hanya terlihat menakutkan tapi puluhan pasukan bodoh dibawah satu komando pintar tidak hanya terlihat namun sudah pasti sangat menakutkan dan bisa jadi berbahaya. Oleh sebab itu, jangan pernah bersejak perihal kualitas. Sebab apa yang dilihat orang banyak belum tentu sah dilihat tuhan yang hanya maha satu. Dan tuhan tidak pernah mendahulukan kuantitasnya.
Salam santri nusantara

Jombang, 07 Agustus 2017

Surat Palsu Untuk Tuhan

Maaf, jika setiap harinya aku melakukan kewajiban secara sendiri. banyak dari mereka yang jadi makmum dan berbondong-bondong berada satu shaf dibelakang imam. Yang jadi pertanyaan mendasarku adalah, menyoal tulus apakah setiap kepala wajib memilikinya? Atau hanya sekedar mereka ingat usia yang sudah hampir tidak bisa dikata senja pada akhirnya semuanya berpura-pura. Ah kalian palsu !!
Maaf, jika setiap petang aku selalu terlelap dalam selimut bintang-bintang yang kadang kedinginan menyapa dengan tertawa jahatnya, aku tidak penah menggenggam sepertiga malam dan hampir aku hapuskan dari list keseharianku. Padahal sangat-sangat sejuk sekali bukan udara diwaktu itu. Dimana matahari dan ayampun sudah bersiap untuk bangun dan membangunkan. Manusia di alam semesta ini sudah siap sibuk dan menyibukkan. Dan oh iya, mereka semua pun datang ke rumahMu. Yang menjadi pertanyaan sederhanaku adalah, apakah benar memang mereka datang itu dengan satu niat sama yang suci, atau datang hanya karna paksaan profesi? Ah kalian palsu !!
Maaf, jika setiap deik yang berdetak hampir rinduku tidak pernah terpupuk sehat perihal kamu, yang aku rindu selama ini hanya manusia dan sebatas manusia, tidak lebih dari hal itu. Sementara, aku mengetahui sisi hebatmu banyak yang merindukan dan memang terjadi dalam skala yang tak terhingga. Kamu adalah satu-satunya yang didamba manusia yang selama ini kurindui. Persoalan mendasar yang masih jadi pertanyaan pribadiku adalah, memang betulkah semua yang datang itu menomorsatukan kamu dalam semua hal? Atau hanya perihal iba dan meminta belas kasih sehingga mereka seperti itu? Ah, kalian palsu !!
Terkadang dikehidupan ini kita hanya terpatri dalam dua hal, berprasangka atau berwaspada. Karena memang hal tersebut tercipta sudah dari sejarah untuk bersama. Misal, tidak sengaja kita melihat sepasang kekasih yang salah satu diantara mereka memang tidak kita setujui secara pribadi, entah dari paras atau tindak tanduknya. Yang jelas pertama kita pasti beranggapan, entah berprasangka perihal baik atau buruk dan selanjutnya pasti berwaspada dengan anggapan yang lain, betul begitu bukan?
Kelak, pada rindu-rindu yang tak berujung, pada kasih senduMu yang agung, aku akan menemuiMu sendiri tidak perlu disetiap pagi, malam, ataupun sepertiga hari diselimuti bayang-bayang bintang. Aku akan bermunajat sampai aku lupa, mana aku, kamu, dia dan juga kita yang aku satukan dalam satu doa. Sehingga kamu paham bahwa aku bukan palsu perihal kamu. Karena yang kutahu selama ini hanya tulus. Dan menyoal pamrih tidak pernah ada dalam kamus sehari-hariku.
Semoga surat ini tersampaikan kepadaMu utuh tanpa perantara. Amiin,
Jombang, 2 Agustus 2017

Ini (bukan) Pelajaran Su'ul Adab

Jika memang aku tidak pernah mengerti tentang susahnya berjuang. Ketahuilah, sejatinya aku juga butuh belajar untuk mengerti perihal perjuangan yang sampai saat ini aku pertanyakan jelasnya seperti apa dalam berbagai macam sudut pandang. Biar tidak ada paham yang disalahkan. Bukankah sangat romantis kalau kita masih mampu meneguk satu sampai dua teguk kopi dengan bersama-sama lalu berbicara perihal cinta yang semesta sudah mendukungnya? Tapi kenapa aku masih sebodoh ini, tolong ajari aku mengerti sebuah kata ikhlas.
Kemarin disepertiga malam yang lalu, aku terbangun dengan penyesalan yang mungkin sangat tandus dihati, mengikis sisa-sisa asa yang hampir kutumbuhkan satu-persatu. dan lagi, rasa ketidak sopanan ini menjadikanku bayangan menyoal kesalahanku didetik-detik yang lalu. Yang kusesalkan bukan apapun, cuma satu, dimana kopi dan meja kita sudah tidak sejajar. Padahal sebelumnya kita pernah membuat mimpi dalam skala besar dan bersama-sama.
Bukankan itu yang dulu pernah kita diskusikan, terkait semua elemen yang jika bersatu akan menjadi indah, harmoni dan suci. Sampai pada akhirnya tuhan melirik untuk mengangkat semua derajat kita. Namun pelajaran kecil kali ini memang mengajarkanku bahwa mencintaiMu dan mencintaimu memang butuh hal yang luar biasa karena memang kalian tercipta dan dicipta bukan dari rahim yang sederhana. Sekali lagi, maaf.
Terkadang, langit senja disore menjelang malam itu indah dan menarik perhatian, namun itu cuma singkat. Lalu, kenapa masih berkutat dengan hal yang sejatinya menipu itu. Memang, yang indah akan nampak indah dan menarik untuk dipandang berlama-lama. Namun, kenapa tidak melirik keindahan yang lain. Bercengkrama dengan manusia yang benar benar dia benar misalnya. Karena yang semua orang tahu kesalahan itu biasanya terjadi hanya karena hal sepele. Tidak mengerti sikap dan tidak percaya cakap contohnya, dan juga beda pandang yang dijadikan salah. Seperti itulah kurang lebih.
Maaf, ini mungkin jadi diskusi pribadi kita disela-sela maya yang setiap hari membuat fitnah. Bukan perihal indah, namun kadang dia datang dengan seenaknya. Mengotori misi suci kita dan semua orang menganggap ‘setuju’ dengannya. Lantas, apakah ini bukan pelajaran sia-sia. Lalu apakah aku dianggap tidak melakukan dusta jika janjiku tiba-tiba tersingkirkan begitu saja.
Ah sudahlah, ini bukan pelajaran su’ul adab. Sekali lagi, maaf. Aku masih lelaki biasa yang sampai kapanpun akan berada dibarisan depan dengan ribuan tusukan pisau untuk membelamu, tidak mungkin sakit. Karena yang kutahu doamu untuk menembus langit sangat-sangat di ijabahi. Maafkan aku, guru.
jombang, 1 agustus 2017

Perihal Melupakan (kewajiban) mu

Kali ini aku benar-benar kabur, menyusuri langkah dengan keramaian sebelumnya, mencoba mengukir baris demi baris artikel yang sebelumnya pernah diukir oleh pejuang-pejuang yang sejatinya berjuang, dan kini hampir aku lupakan.
Jujur, aku hanya lelaki biasa. Yang hanya mampu menjawab ‘nggeh’ ketika titah darimu sudah membabi buta. Yang dimana bagian dari monumen bersejarah ini cuma sisi kosong tanpa wibawa sebenarnya. Sering kali kau ucap sumpah dengan ancaman yang menjadikan kami semakin berani untuk berlari.
Jujur, aku hanya lelaki biasa dimana harap tentang barokah masih ingin kami raih, perihal santun masih ingin kami capai. Meskipun setiap harinya kau berlibur dan kau menginturksikan kepda kami untuk berbaur. Tidak sulit memang, namun sesungguhnya pengertian lah yang kami harapkan.
Jujur, aku hanya lelaki biasa. Yang dikata orang penuh dengan pengalaman diluar sana dan bisa menguasai seluruh media, namun faktanya ketika kedatanganmu dalam sebuah surat SK, malah kamu yang sepertinya mampu disemua media dan bergerilya dibanyak gaya. Padahal celoteh orang diluar sana kesibukanmu hanya perihal uang dan dunia yang lainnya. Bukan tentang kami dan keberlangsungan hidup umat disekelilingmu.
Lalu, apa yang harusnya dilakukan kami, yang dimana ketika evaluasi hanya kesalahan yang kami raih, solusi-solusi semu yang hanya sebagai pengindah pembicaraan kemarin, dan juga perihal omongan yang hanya kosong ketika kata-kata sebelum kata tapi selalu menjadi awal pembicaraan. Padahal sebenarnya kami tahu yang kamu inginkan hanya menuruti egoismu saja sampai kami lupa tentang hal wajib yang harus kami lakukan sebelumnya.
Perlu kamu ketahui, pelangi datang itu selalu ketika hujan selesai runtuh dan jatuh, namun kenapa kamu masih menyoalkan masalah yang harusnya kamu tahu juga pasti ada hikmah dibalik semua itu? Ini aku yang bersalah atau kamu yang pemilik benar itu? Apa tidak ada jalan selain solusi? Cobalah dipikirkan lagi, sebenarnya apa yang da dibenakmu?
Kamu juga tahu kan, hanya tentang ketikan kata-kata kamu brani mencela, sedangkan medan perang sebenarnya adalah kita? Bukan layar handphome ukuran 5 inchi yang selalu kamu bawa-bawa, yang ketika rapat selalu kamu pakai untuk aktifitas apatis dan tidak menghiraukan sekitar. Keluhan kami bawa, masalah kami jaga, agar ketika berbicara tidak salah. Namun fakta berkehendak lain, kamu lebih memilih menganggur dan melempar pendapat kepada orang lain.
Padahal aku dan kami tidak perlu menunggu orang lain untuk menghadapi maslah, kami dan aku hanya menunggu kamu, bahkan berlama-lama denganmu pun kami rela serta berani asal kamu berikan solusi pasti demi sebuah kebutuhan umat yang hakiki? Bukankah begitu harusnya menjadi sosok kyai yang suci? Kontaminasi, intervensi yang harusnya mampu kamu tepis dengan lafadz-lafadz tuhan, bukan malah koalisi? Aku harap kamu paham apa yang kami maksud.
Oh iya, aku hampir lupa, kemarin mereka sempat berkata kepadaku, mungkin bisa kau jadikan ajaran untuk bahan berdiskusi, katany mereka kemarin bilang kepadaku bahwa kata-kata sebelum kata tapi adalah omong kosong. Itu saja sudah terimakasih. Salam santri nusantara.
Jombang, 31 juli 2017

Menyoal cinta dan mushafNya

Maaf, aku yang selama ini hampir melupakanmu untuk kepentingan tidak penting yang dipentingkan oleh orang-orang banyak namun tidak menjadi penting dimataMu dan didalam isi bait-bait cintamu. Sebenarnya hanya masalah waktu, dimana aku dan kamu akan bertemu setiap waktu, membahas rindu serta perihal kecil yang menyangkut semua umat di atas kuasaMu. Membagi cerita-cerita sejarah nyata yang hampir dilupa banyak manusia.
Dispersekian detik untuk sepersekian harinya aku hanya menolehmu sejenak, terkadang aku hanya mencium keningmu bagian luar, bahkan nadimu tidak tersentuh sedikitpun oleh otakku. Sungguh munafik bukan, ditengah orang-orang yang banyak menghafalmu, namun kau dijadikan senjata untuk kebutuhan mereka yang tidak pernah membawa nama surga sedikitpun. Yang kutahu perihal kamu, dibahas oleh orang-orang yang berpengalaman bersamamu, kamu hanya dijadikan batu loncatan untuk menuju ridhoNya melalui jalan mereka masing-masing. Dewan, petinggi, pesohor, muballigh, sampai antek-antek soeharto yang menjelma menjadi kyai di era modern ini.
Aku kadang sedikit miris melihatnya, aku yang selalu lalai perihal kamu, namun setidaknya aku tidak pernah muluk-muluk untuk selalu mendekapmu. Dimana orang-orang yang berada dikubah biasanya hanya menentengmu dan percaya kepadamu cuma dimainkan seketika waktu, Tidak setiap waktu. Sementara aku yang harus susah dan malu ketika tidak hafal perihal sifat sedikitmu itu. Apakah hanya ucapan istighfar yang layak ditelinga kanan dan kiriku, supaya aku tahu bahwa dengan kamu itu bukan tentang butuh tapi tentang  utuh. Semua melalui ceritamu.
Orang mudah tertarik dan mudah melupakan tentang paras indahmu, yaaah... lagi-lagi menyoal mereka yang menentengmu seakan kamu anak tiri dan mereka sudah menguasai semua nadi dipenjuru bumi ini. Di lampau kau tercipta yang aku tahu semesta menjunjungmu tinggi? Tapi, mengapa sekarang bisa terbalik seperti i ini, aku hanya berdoa semoga ibumu tidak pernah mengadu perihal sakit yang tak berdarah ini, sehingga kamu tetap abadi di hati para muslim yang sejati.
Kelak ketika oang-orang sadar bahwa memilikimu itu segalanya, biarkan cinta yang membawa mereka pada keabadian hakiki menjaga kamu seutuhnya dan mengharumkan naskah sejarah dalam setiap bait yang disuarakan untuk semua orang.
(Jombang 25 juli 2017)

Semuanya Tentang Abdi

Oke, sudah kurang lebih enam hari berlalu dihari kemenangan, kita menghabiskan puasa dipenjara suci sampai kembali pada hari yang fitri. tapi tetap sama, menyoal rindu yang tiada habisnya. Aku sendiri yang tidak kuat menafsirkan indah waktu itu. Saat adzan maghrib diburu habis-habisan, saat suara amiin dalam mantra terakhir kalimat fatihah dengan lantang diucapkan. Sekarang semua menjadi sepi, hanya berkas yang membekas dirumah ini.
Kini hari fitri sudah berangsung, sosok bapak yang dikenal agung dan berwibawa itu masih sibuk dengan para tamunya, masih ada manusia yang bertahan disana ketika yang lain meraih tangan dan berjabat didesa sebelah. Sangat mulia sekali. Rasanya iri. Bait demi bait naskah ini mencair, bak air mata yang tak mampu untuk diusap lagi dengan selembar tisu. Kami sangat cemburu padamu.
Ya, mereka disebut abdi ndalem biasanya. Kadang tidak semua dari mereka yang kerjanya bagus, kadang ada yang sembrono dalam bertugas, kadang juga sangat sempurna dan tidak pernah lalai, sampai suatu ketika ada panggilan dari penguasa dia bergegas untuk mengangkatnya. Ditengah larut hausnya badan ini menyurut. Tapi, semangatnya yang membuat kita cemburu. Pemandangan seperti itu menjadi candu, tak perduli dia belum mandi atau tidak makan sekalipun. Baginya, tugas tetaplah tugas.
Rela meluangkan waktu dan memberi waktu luang demi mencari sebuah barokah, Hanya barokah. sebenarnya apa yang perlu dipertahankan jika hanya gaji yang tidak terlihat manusia yang didapatkan. Perihal barokah sangatlah buram bukan? Sama sekali tidak masuk akal bukan? Tapi banyak sekali yang berebut bahkan sampai menjilat dan menghalalkan segala cara demi mendapatkannya.
Terlepas dari itu, menyoal sifat baik dan buruk yang dilakukan seorang kepada sosok yang dipanggil bapak tersebut mungkin akan sama dimata beliau tapi tidak sama dimata sang pembuat naskah. Kadang aku sendiri miris melihatnya, ini hari sudah petang, hampir dihari fitri ke detik sekian kita bersama-sama menjalankan. Tapi mengapa? Kamu dan antek-antekmu masih saja menjilat, menusuk dari belakang dan mengambil kesempatan baik hatinya seorang terhadapmu. Apa tidak terbesit sedikitpun untuk insaf? Atau sekedar menangis ditempat gitu? Dasar biadab. Semuanya gara-gara kamu dan kamu.
Pesanku kepada orang yang kucemburui, yang setiap hari hanya memberikan semacam unjukan kepada sang kaisar untuk mendapat barokahnya. Yah betul, abdi ndalem.- aku hanya ingin berpesan dan sekaligus memberikan ucapan kekesalan. Semoga yang kamu lakukan benar-benar tanpa pamrih sehingga tidak ternoda sedikitpun kuatmu untuk meridho semua kebaikanNya, semoga kamu tetap bisa amanah dan jangan sepertiku yang hanya dapat kategori tukang menggerutu, semoga kelak ketika kamu sudah pulang dan kembali dalam genggaman orang yang melahirkanmu, pibadimu sama persis. Sehingga, ketika aku sudah kehilangan sosok bapak, aku tetap bisa bersua denganmu dan mencium sebagian kulit dibagian jemarimu, sudah itu saja.
Tangisku sudah tak mampu dibendung, ini bukan hanya perihal aduh, namun ini suara teduh dari hati seorang perindu, semoga semesta mengetahui hari fitri kali ini adalah perubahan yang akan dijalankan perihal ketegasan. Karena bagiku, menyoal masalah sumpah, aku dan teman-teman sudah disumpah atas nama garuda, lantas alasan apaagi yang harus kami nyatakan untuk pengguguran diri. Sedangakan kau yang hanya berbekal “nggeh romo”, namamu diagung-agungkan sampai kepelosok negeri yang angkuh ini. Semoga ketidak adilan ini menghasilkan sebuah senyuman, walaupun hanya di akhir cerita. Karena harap ini nyata bukan hanya celoteh seorang yang hampir musnah diusia senja.- Rahayu
(Jombang 01 juli 2017)

Sajak Rindu Pesantren

Hari ini masih tetap sama. Dibungkus indah ribuan senja aku bersembunyi dibalik indahnya. Menikmati sampai entah nanti diri ini terkubur sepi karena sebuah fitnah atau barokah. Karena sejatinya hidup sudah tertuang dikitab washiyatul mustofa. oleh sebab itu aku tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.
Sementara kamu dan seisi rumah ini adalah alasan kenapa aku tetap bertahan dikota pesakitan ini. Dimana semua orang hanya menangis perihal rindu, seorang hanya lari perihal ingin bertemu sampai ada yang pulang dan tidak kembali perihal sepi. Itu semuanya sudah tergambar lengkap dikehidupan ini. Dirumah mereka bisa menikmati satu kamar sendiri, sementara disini kotak ruang sepersekian meter mereka harus menikmatinya bersama-sama bahkan tidak akan ada ruang untuk menyendiri.
Sedih bukan? Tidak sama sekali, dimana semua keluh dan kesah sudah tertumpah ruah, banyak sahabat yang lainnya yang menjunjung tinggi didepan mata sampai kita paham apa arti bersama. Namun banyak yang menyikapi itu sebelah mata, bahkan mereka menganggap ini penjara.- bukankah ini semua tentang pencarian jati diri dimana kita berani dilepas disebuah rumah konglomerat yang tuan rumahnya sendiri masih mengaji. Apakah kita tidak ingin ikut serta atau membantu mengkhatamkan kitabnya?
Lalu, kenapa kamu masih saja ragu menyoal rindu disini. kembalilah sahabat. Disini banyak sekali rindu yang dapat kau urai. Kau juga bisa menikmati senja disetiap sudut lantai atas. Apakah kau tahu bahagianya disini meskipun banyak fitnah dari setan yang berupa manusia berkopyah. Ah, tapi itu kalah serunya dengan buaian hangat seorang sahabat dengan membawa pena dan kitab. Sangat kalah jauh. Sekali lagi apa kau tidak menyesal ntuk berpaling?
Baru ingat, sekarang sudah buka puasa. Pasti banyak kenangan kan menyoal buka puasa disini, tentunya tidak kalah enak dengan masakan ibu kesayanganmu dirumah, tapi sensasi harmoni yang didapat apakah tetap sama? Rindu kali ini berbentuk hujan asal kau tahu? Dia jatuh basah dan membasahi semua tanah meskipun yang basah Cuma tanah tapi dikasat mata sudah menyerupai air. Sangat deras dirasa. Sudah itu saja.
Mungkin sajak rindu ini hanya semacam bualan yang tidak penting, namun semua ini mewakili indah yang pernah aku dan kamu rasakan sehingga mampu menjadi kita. semoga abadi – Rahayu.

(jombang 4 Juni 2017)

Bukan sekedar Al-kitab

Masih disetiap senja yang menemani dengan secangkir teh panas serta senyuman ceria ribuan manusia yang berkumpul dalam satu wadah. Dikepala lima dia bertengger tegak dengan ribuan doa yang sudah terpanjat perihal sukses dan masa depan yang cerah nan abadi. Buaian hilal yang sudah ditentukan pada hari ketiga inilah naskah mulai dibangun. Dia yang tak henti-hentinya, mulai dari mata yang masih sehat sampai memakai pembantu kaca yang ditempelkan dikedua bola matanya, tetap setia dengan pegangan kuningnya. Kuningnya bukan sembarang kuning. Disana sudah menyoal ribuan masalah beserta solusinya yang siap dikaji disetiap detik dalam kehidupannya.
Yaaaah, kita biasa menyebutnya kitab kuning. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu apa yang dimaksudkan dengan kitab kuning. Namun, isi yang tersirat melalui surat didalamnya apakah ada yang memahami sepenuhnya?
Ini lebih dari perihal kamu yang setiap hari berusaha menggerogoti isi hati yang sejatinya keras ini. Betul sekali, kertas balutan warna dasar kuning ini lebih tajam untuk menggoyahkan hati yang kian kalut. Yang disetiap hujan merindukan kenyamanan, yang disetiap kemarau merindukan kedamaian. Namun apalah daya hanya bisa menerima kenyataan serta merubahnya menjadi lebih indah.
Kertas ini juga yang biasanya menceritakan tentang mudahnya menikmati hidup. Tentang bagaimna kehidupan ini sebenarnya bisa digapai dengan dua tangan dan dua kaki saja. Namun dipersulit oleh manusia yang seakan butuh kursi sebagai tahta dan menyalahgunakan aturan yang sudah diterapkan didalam al-kitabNya.
Kamu atau kita, semua sama. Apakah tidak ada sedikit memori perihal balutan bolpoint hitech menggores lembut seraya suara kyai meneriakkan maknanya dengan lantang serta maksud didalam kertas terebut dengan khidmat. Bukan menyoal kenangan yang lalu atau bahkan bayangan semu yang membuatmu membeku. Ini hanya sebuah rasa yang sudah terpatri didalam diri. Karena mengaji kitab kuning ini ibarat kita memandang langit. Birunya tetap sama tapi ketika kita memahami sepenuhnya maka akan ada subhanallah disetiap pandangannya.
Semesta, maukah kau untuk mengingatkan mereka kembali? Mereka yang dulu pernah menyentuhku bahkan pernah memahamiku meskipun sesaat? Sehingga mereka semua paham bahwa akulah yang sejatinya dipelajari, bukan rentetan bualan-bualan yang dipoles suci sampai saat ini mereka terdholimi? Dan berpangku pada harap, angin membawa kita pada perdamaian abadi melebihi kitab kuning yang mempersatukan kita sebelum manusia yang lain merusak saat ini. Amiiiiin.
Ini adalah doa laknat pembuka ramadhan

(jombang 28 mei 2017)

Bagaimana seumpama kita tukar pahala dengan uang?

Bagaimana jika kita sebagai manusia berfikir bahwa pahala itu dianalogikan sebagai uang atau derajat? Oke, diskusi kita dimulai dari sini.
Diera globalisasi ini, masyarakat indonesia seringkali mlakukan hal yang tidak masuk akal, mempersulit hal yang wajar dan memperwajar hal yang sulit. Apabila tes SIM dilakukan dua kali tes, yang pertama dikepolisian dengan tes jalan menggunakan motor dan pilihan jalan yang ada, dan yang kedua dilakukan dijalan umum. Dengan anggaran yang sama dan ketentuan apabila gagal maka mengulang di hari selanjutnya. Itu adalah contoh masalah bahwa mempersulit hal wajar.
Logikanya, kenapa tidak langsung tes dijalan? Kenapa harus melalui sistematika dengan tes dikantor polisi terlebih dahulu menggunakan motor bebek? Dan yang paling penting adalah kenapa sistematika harus serumit itu? Kita kembali kekajian awal bahwa Al-qur’an sudah mengajarkan kita idealis sejak awal. Seharusnya didalam firmanNya sudah dijelaskan bahwa tuhan tidak mungkin menguji hambanya tidak sesuai dengan kemampuannya. Berarti, seharusnya pelaku tes SIM atau yang bersangkutan bisa dan sanggup melakukan dua tes tersebut. Dan di firman selanjutnya bahwasanya Tuhan tidak akan merubah nasib hambanya kecuali hambanya merubah nasibnya sendiri. Naskah tekstual ini secara kontekstual manusia secara umumnya akan menganggap bahwa firman ini akan berguna dalam kondisi apapun, namun faktanya?
Sistematika yang diperumit manusianya sendiri sehingga makna dari ayat yang pertama bertolak belakang, ketika Tuhan mempermudah makhluknya dengan petunjuk yang sudah di nash, tapi mengapa manusia yang seharusnya melanjutkan langkah tuhan ini malah mempersulit keadaan? Mungkin bisa dikuatkan dengan ayat kedua bahwa setiap makhluk wajib merubah jalan hidupnya sendiri, namun kenapa ketika tidak bisa merubah kesempatan yang diberikan manusia, solusinya tidak semudah tuhan memberi kesempatan hambanya untuk bertobat berkali-kali?
Mungkin bagi anda yang paham tentang kajian islam maka bisa menjawab semua ini dengan makna eksplisit dari sebuah dalil. Namun mari sejenak kita taruh dogma-dogma istimewa tersebut dan mengedepankan nalar sehingga kita berfikir realistis? Anggap kita ini aliran qodariyah yang mengutamakan dalil dan mengedepankan logika, intinya sama-sama digunakan untuk berfikir?
Itu hanya hal spele mengenai tes SIM yang dikaitkan dengan ayat Al-qur’an, namun bagaimana dengan hal lain terkait itu, seperti halnya politisi indonesia yang kebanyakan muslim, Kementrian agama? Pernah terjerat kasus suap? Pendiri salah satu organisasi masyarakat muslim pernah terlibat kasus penistaan beragama? Musisi-musisi muslim terjerumus didalam dunia perpolitikan yang berujung masalah hukum dipengadilan? Dari hal sesepele itu bisa sedikit kita simpulkan bahwa semakin pintar orang memaknai naskah semesta maka semakin banyak pula yang melakukan pelanggaran didalamnya?
Kita kaitkan lagi dengan pesantren? Pada dasarnya mindset kebanyakan manusia beranggapan bahwa semakin banyak santri yang mondok dipondok pesantren itu maka semakin banyak pula penghasilan yang didapat, berarti terbukti bahwa pondok pesantren tersebut memang berkualitas secara logika, namun tak jarang orang berfikiran semua yang ada dipondok pesantren yang fasilitasnya memadai berarti harus disertai dengan administrasi yang mahal, pada akhirnya kesan orang tua yang akan memondokkan anaknya melihat keadaan yang seperti itu mengakibatkan menurunkan derajat pesantren secara kualitas. Jelas, yang dipikir orang tua semacam itu adalah provit yang didapat pesantren? Mereka tidak pernah berfikir bahwa membiayai tenaga cerdas untuk menjadi fasilitator santri itu mahal, biaya makan yang semakin mahal dan tidak jelas harganya, belum juga fasilitas penunjang yang ada diasrama.
Oke, selesai disana. Yang dipikir pengasuh adalah semakin banyak santri semakin banyak provit, semakin banyak provit maka kebutuhan terpenuhi, semakin kebutuhan terpenuhi maka santri berkualitas, semakin santri berkualitas maka nama pondok pesantren akan terlihat bagus dikalangan semua orang. Betul begitu? Belum memikirkan hal lain semacam tingkat banyaknya santri berbanding lurus dengan tingkat kriminalitas santri, betul demikian? Namun yang dipikir orang tua adalah pondok pesantren yang besar dan santrinya banyak pasti biayanya mahal, dan biaya mahal pasti tidak semua orang masuk kesana, pasti didalam administrasi ada seleksi didalamnya, setelah seleksi pasti yang terpilih yang berkualitas saja. Dari kedua pemikiran tersebut jelas semuanya tidak mungkin sinkron hanya karena sudut pandang berbeda dan urusan dunia yang menyangkut keuangan.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa adanya sismbiosis mutualisme itu membuat semua menjadi mudah. Contoh, ada pesantren besar dan biaya masuknya mahal karena ditunjang fasilitas, kemudian orang tua berfikir ‘anak saya nanti saya pondokkan disana, nanti masalah uang bisa saya carikan, toh seumpama anak saya nanti sukses rezeki itu bakal dikembalikan tuhan melalui anak saya’. Sampai pada akhirnya antara kedua belah pihak berani berusaha, berani rugi dan berani berhasil dengan perjuangan yang sama-sama dihargai. Namun faktanya?
Kita kembali ke pembahasan awal bahwa Al-qur’an mengajari kita idealis sejak awal, mari kita pikir baik-baik. Masalah dari kedua belah pihak hanya satu yakni uang dan mereka berdua tidak pernah memperhitungkan pahala yang nominalnya sangat jauh lebih dari uang. Kita kembangkan lagi, sampai pada akhirnya gara-gara perkara uang orang banyak yang pesimis, tidak ikhlas, mudah iri, dan gampang menuduh, serta menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang. Wal hasil, terjadi korupsi, banyak yang melakukan nepotisme dan kolusi menyebar disetiap pemikiran masayarakat awam pada umumnya.
Seumpama kita menggunakan nalar 99 sifat Allah salah satunya  yakni sabar, percaya, baik, dan juga amanah. Pasti semua berjalan dengan baik. Semisal, pengasuh memberikan edaran pembayaran pondok pesantren dengan nominal yang sudah rinci, memberi iming-iming kualitas pondok yang ditunjang dengan tenaga pengajar profesional. Kemudian orang tua mau berusaha demi masa depan anaknya dengan usaha yang ada, ikhlas untuk memondokkan anaknya. atau istilah lainnya menginvestasikan masa depan. Seperti acuan pada muamalah adalah sikap saling antarodhin sehingga mewujudkan etos kerja yang saling percaya dan berujung maksimal dengan kepercayaan yang ada.

Oke kita konklusikan bersama bahwa karena uang orang jadi pesimis, karena pesimis orang tidak percaya pahala, karena tidak percaya pahala orang jadi kufur, karena kufur orang jadi jarang membaca al-qur’an, karena jarang membaca al-qur’an orang jadi sering ngawur, karena ngawur orang jadi salah kaprah, karena salah kaprah orang jarang berfikir logis, karena jarang berfikir logis pada kematiannya mereka tidak bisa tenang, berarti gara-gara uang orang tidak bisa tenang. Oleh sebab itu diskusi kita kali ini dinamai Bagaimana jika pahala kita tukar dengan uang? Supaya orang tahu bahwa uang bukan jalan utama meraih ridho ilahi. Akhirulkalam. Salam santri nusantara

Sajak kuli Santri

Hari ini aku mulai lelah, menata naskah demi naskah yang pada akhirnya terabaikan. Membuat mimpi yang sepersekian detik aku pertimbangkan nyatanya juga dicampakkan. Seakan aku ingin melepas kopyah dan sarungku ini. Bukan berarti aku tidak ingin mendapat predikat santri lagi, namun satu hal yang pelu kau ingat. Aku bukan kuli yang seenaknya kau suruh bekerja rodi. Kau tahu kan aku ini santrimu? Mengaji dan mengabdi demi mendapat barokahmu?
Sudah memasuki bulan keempat, dan kau seakan masih membuat kesepakatan tersembunyi dengan orang-orang lain untuk membuat sistem baru, hey.. kau tak ingat bukan? Ayahmu dulu kuatnya seperti apa? Wibawanya seperti apa? Tapi kenapa sekarang berubah semenjak kekuasaan ada ditanganmu sepenuhnya?
Semua orang pernah melihat senja, semua orang pernah merasakan hujan, bahkan terkadang sebagian orangpun kehujanan disaat senja. Tapi apakah kau tahu? Mereka tidak pernah mengeluh, mereka malah menganggapnya itu syahdu. Indah disore hari kehujanan rahmat dan mata melihat senja dengan gamblang sampai pada akhirnya suara tuhan memanggil dari kejauhan.
Kau berkilah seakan raja, menyebar perintah kesan kesini. Membuat titah untuk mengabdi. Sebenarnya itu kepentinganmu bukan? Berapa orang yang kau sakiti? Berapa orang yang kau lucuti? Berapa orang yang mengharap sudi tapi malah kau caci maki?
Ah aku lupa, perihal bahagia kau tak pernah mendapatkannya. Kau lupa pelajaran tentang kehujanan disaat senja. Indah bukan? Syahdu bukan? Tapi yang ada dibenakmu hanya uang uang dan uang. Sudah , itu saja. Sekarang ketika semua kocar kacir, santrimu pergi tanpa izin, mereka tiba-tiba menyimpan dendam yang tiada akhir. Lalu, apa yang mau kau perbuat lagi?
Ah aku juga lupa, bahwa kau sudah melupakan tawa saat mudamu, saat kau tahu bahwa jemuran adalah singgahan yang cocok untuk malam minggu, menikmati pakaian rusuh yang jatuh diantara dinding-dindinganya itu bagian daripada mengenang masa lalu barokah. Tapi sekarang? Faktanya kau sudah membuat kebahagiaan baru, lelahmu dulu kau anggap sebagai masa lalu.
Tentang ro’an takror dan ngaji kitab kuning, mungkin masih kau ingat. Betul, kau hanya ingat kejadiannya saja, kau tidak pernah ingat perjuangan santri-santri jaman dahulu sampai sekarang melakukannya. Usah kuulang lagi bahwa kau yang punya perintah, kehendakmu adalah kewajibanku, bukan hanya aku tapi semua yang menganggapmu guru.
Sudah itu saja celotehku didini hari ini, setidaknya aku tahu pada bulan keempat ini kau dan aku belum menjadi kita. Sehingga barokahNya masih belum bersandar disudut dinding hati kita dan mereka yang menganggapmu ada. Berdoalah, semoga kejayaan hadir disetiap detik tingkahmu. Berdoalah, semoga kebahagiaan hadir ditiap langkahmu sehingga kau tahu bahwa membuat keringat itu tak semudah membalik baju yang setengah basah. Salam lestari

(jombang, 12 april 2017)